apa yang bkin lo ngrasa seneng hari ini?
pertanyaan itu pasti sering bgt di ucapin klo LAGI SEDIH
susah bgt nyari titik bahagia dlm idup kita.
nah,
prnah g ngerasa semakin jiwa kita seimbang semakin bermakna lah idup ini
OPOSISI BINER
segala hal yang ada dua
baik buruk kaya miskin cantik jelek atas bawah sakit sehat hidup mati
kenapa ada oposisi biner?
karena dunia itu butuh keseimbangan
klise bgt emang tapi g ada salahnya buat jadi bahan perenungan.
tuhan kasi kita 24 jam waktu di kali hari kita udah hidup di dunia ini
semua nya pasti seimbang asalkan kita mau menilai dan menganggap hal itu seimbang
hmm, pasti terlalu susah buat merinci apa aja yang kita dpetin dari idup
maka yang kita lakukan adalah mengira
bukan mksud kontra terhadap kaum positivis tapi dengan melatih perkiraan
idup bakal lebih bermakna
idup itu misteri
g ada yang pasti
makna idup irtucma bisa di ikira2 aja
oke lah, subjektif bgt
tapi itu mnurutku
sebaiknya lo bisa mengira2 bahwa idup lo itu seimbang
maka lo berada pada garis tengah oposisi biner yang bakal bkin idup lo bermakana
gw ykin bgt g ada seorang pun yang sial2 trus at least dia py kebahagiaan bsa idup, bsa ngerasa bsa berpikir dan lain lain
yah walaupun yang dirasa itu buruk, idup yang dijalani juga keras
tapi byk orang dari luar kaya bgt, cantik bgt, tapi g bsa ngrasa idup itu seperti apa
segala itu OPOSISI BINER
kecuali TUHAN yang tunggal, g bsa di ganggu gugat, absolut.
semua nya terdiri dari dua sisi
g mungkn seimbang sempurna
sbg manusia yang menuntut kesempurnaan
knapa kita g cba mencari keseimbangn idup mulai sekarang
bukan malah mencari posisi strategis yang statis
percaya deh hidup lo bakal amis klo lo g berfikir dinamis!!
Senin, 11 Mei 2009
Rabu, 22 April 2009
pemilihan umum telah selesai dilakukan.
kemarin di pra pemilu pemberitaan didominasi keunikkan-keuniikan cara kampanye yang dilakukan para caleg
akan tetapi kini, pasca pemilu
pemberitaan dipenuhi berita-berita mengeani hal negatif dan menyedihkan yang dialami oleh para caleg yang gagal mendapatkan kursi legislatif.
kelakuan caleg pun beragam
seperti menjadi stres, menutup akses jalan raya, menyandera sekolahan
dan sebagainya
hal itu merupakan hal yang sangat memalukan bagi pesta demokrasi itu
indonesia memang baru mengalami masa emas demokrasi
dimana semua orang berhak dan dapat menjadi pelaksana pemerintahan
hal ini membuat beberapa orang merasa kaget.
banyak yang terjadi misalnya tanpa visi dan misi yang jelas ada saja caleg yang nekat mencalonkan diri.
hal ini sama saja seperti berjudi
mencalonkan diri sebagi caleg bukan perkara mudah
banyak hal yang harus disiapkan
terutama uang
uang yang akan dihabiskan dalam mengurus seluruh birokrasi sebelum pemilu bukan barang sedikit
membuat acara kampanye, stiker, pamflet, baliho, belum lagi uang sogojk untuk anggota birokrasi
waaahh,,,
uang yang sangat banyak bila di bandingkan dengan membuka usaha untuk kelangsungan hidup yang lebih pasti
semoga saja pada pesta demokrasi selanjutnya
ada persiapan yang sangat matang dari pada para caleg
mulai dari materi, moral dan paling penting spiritual
bila belum siap kalah pasti akan mengakibatkan hal beruntut buruk lainnya.
hanya akan merepotkan anggota keluarga dan masyarakjat sekitarnya
seperti yang dikatakan presiden SBY pada kesempatan berpidato dalam rangka evaluasi pemilu beberapa waktu yang lalu.
demokrasi yang sebenarnya adalah ketika seseorang berani menerima kekalahan nya dan menjunjung, ikut bangga dan memberi supoort bagi pemenang suatu kompetisi.
ini merupakan pelajaran bagi kita semua
semoga pesta demokrasi selanjutnya lebih damai dan terencana
amin.
kemarin di pra pemilu pemberitaan didominasi keunikkan-keuniikan cara kampanye yang dilakukan para caleg
akan tetapi kini, pasca pemilu
pemberitaan dipenuhi berita-berita mengeani hal negatif dan menyedihkan yang dialami oleh para caleg yang gagal mendapatkan kursi legislatif.
kelakuan caleg pun beragam
seperti menjadi stres, menutup akses jalan raya, menyandera sekolahan
dan sebagainya
hal itu merupakan hal yang sangat memalukan bagi pesta demokrasi itu
indonesia memang baru mengalami masa emas demokrasi
dimana semua orang berhak dan dapat menjadi pelaksana pemerintahan
hal ini membuat beberapa orang merasa kaget.
banyak yang terjadi misalnya tanpa visi dan misi yang jelas ada saja caleg yang nekat mencalonkan diri.
hal ini sama saja seperti berjudi
mencalonkan diri sebagi caleg bukan perkara mudah
banyak hal yang harus disiapkan
terutama uang
uang yang akan dihabiskan dalam mengurus seluruh birokrasi sebelum pemilu bukan barang sedikit
membuat acara kampanye, stiker, pamflet, baliho, belum lagi uang sogojk untuk anggota birokrasi
waaahh,,,
uang yang sangat banyak bila di bandingkan dengan membuka usaha untuk kelangsungan hidup yang lebih pasti
semoga saja pada pesta demokrasi selanjutnya
ada persiapan yang sangat matang dari pada para caleg
mulai dari materi, moral dan paling penting spiritual
bila belum siap kalah pasti akan mengakibatkan hal beruntut buruk lainnya.
hanya akan merepotkan anggota keluarga dan masyarakjat sekitarnya
seperti yang dikatakan presiden SBY pada kesempatan berpidato dalam rangka evaluasi pemilu beberapa waktu yang lalu.
demokrasi yang sebenarnya adalah ketika seseorang berani menerima kekalahan nya dan menjunjung, ikut bangga dan memberi supoort bagi pemenang suatu kompetisi.
ini merupakan pelajaran bagi kita semua
semoga pesta demokrasi selanjutnya lebih damai dan terencana
amin.
Senin, 30 Maret 2009
ketidak efektifan poto caleg
pemilu anggota legislatif sudah didepan mata. tidak terasa sebentar lagi, kursi dpr akan dihuni oleh manusia-manusia baru. jauh sebelum pemilu berbagai aspek masyarakat berbondong-bondong mendaftar sebagai calon anggota legislatif. mulai dari sarjana, master politik smapai tukang ojek dan pengamen.
indonesia merupakan negara yang baru saja mengalami masa transisi ke arah demokrasi. sudah sangat jelas sekali undang-undang juga mengatakan bahwa semua warga negara berhak mendapatkan hak dalam pelaksanaan politik yang sama. jadi snagat tidak menutup kemungkinan bila semua jenis warga negara dengan menaati beberapa syarat administratif tertentu dapat mencalonkan diri.
terlepas dari siapa yang menjadi caleg. saya mendapatkan inspirasi dari seorang dosen di kelas tadi pagi.
sekarang berbondong-boindong setiap partai menyampaikan kampanye nya. ada yang dengan cara orasi diplomatis sampai dengan cara yang cukup spesial seperti membersihkan pemakaman. terlepas dari hal tersebut. sedikit jauh sebelum kampanye resmi. hampis setiap caleg berlomba-lomba membuat dan memasang baliho yang berukuran agak super.
bila diperhatikan isi dari baliho tersebut berupa poto caleg berukuran hiperbola dengan sangat pede walaupun muka pas-pas an mendominasi.
sudah merupakan rahasia umum, dibutuhkan banyak sekali dana untuk menghadirkan baliho besar apalagi di sudut-sudut jalan protokol yang menurut saya bila tidak secara ketat di tertibkan akan membuat lingkungan tampak buruk.
akan tetapi permasalahan nyaadalah apakah para caleg itu cukup mengetahui bahwa sebenarnya kertas suara yang kelak akan dicontreng oleh masyarakat hanya mencantumkan nama dan nomor urut saja??
menurut saya, agak sedikit mubazir bila caleg mena[ilkan poto terbesar dan terpede nya di banyak baliho yang tentu saja mahal.
coba perhatikan, biasanya baliho hanya berisi poto besar, nama dan nomor sangat kecil
masyarakat tidak akan melihat muka mereka di kertas suara.
jadi sangat mubazir..
apakah sebelum mereka membuat baliho tidak ada diskusi kepada yang sedikit mengerti mengenai masalah ini
bukan kah sebaiknya bila baliho besar tersebut diisi dengan nomor yang besar, nama yang besar dan yang paling penting nomor urut paling besar.
atau misalnya diberi gambar berbentuk panah-panah yang diarahkan kepada dimana nama caleg itu berada.
bukan kah itu lebih efisien dan efektif dari pada menempelkan poto yang tidak bermaksud seperti yang dilakukan kebanyakan caleg??
indonesia merupakan negara yang baru saja mengalami masa transisi ke arah demokrasi. sudah sangat jelas sekali undang-undang juga mengatakan bahwa semua warga negara berhak mendapatkan hak dalam pelaksanaan politik yang sama. jadi snagat tidak menutup kemungkinan bila semua jenis warga negara dengan menaati beberapa syarat administratif tertentu dapat mencalonkan diri.
terlepas dari siapa yang menjadi caleg. saya mendapatkan inspirasi dari seorang dosen di kelas tadi pagi.
sekarang berbondong-boindong setiap partai menyampaikan kampanye nya. ada yang dengan cara orasi diplomatis sampai dengan cara yang cukup spesial seperti membersihkan pemakaman. terlepas dari hal tersebut. sedikit jauh sebelum kampanye resmi. hampis setiap caleg berlomba-lomba membuat dan memasang baliho yang berukuran agak super.
bila diperhatikan isi dari baliho tersebut berupa poto caleg berukuran hiperbola dengan sangat pede walaupun muka pas-pas an mendominasi.
sudah merupakan rahasia umum, dibutuhkan banyak sekali dana untuk menghadirkan baliho besar apalagi di sudut-sudut jalan protokol yang menurut saya bila tidak secara ketat di tertibkan akan membuat lingkungan tampak buruk.
akan tetapi permasalahan nyaadalah apakah para caleg itu cukup mengetahui bahwa sebenarnya kertas suara yang kelak akan dicontreng oleh masyarakat hanya mencantumkan nama dan nomor urut saja??
menurut saya, agak sedikit mubazir bila caleg mena[ilkan poto terbesar dan terpede nya di banyak baliho yang tentu saja mahal.
coba perhatikan, biasanya baliho hanya berisi poto besar, nama dan nomor sangat kecil
masyarakat tidak akan melihat muka mereka di kertas suara.
jadi sangat mubazir..
apakah sebelum mereka membuat baliho tidak ada diskusi kepada yang sedikit mengerti mengenai masalah ini
bukan kah sebaiknya bila baliho besar tersebut diisi dengan nomor yang besar, nama yang besar dan yang paling penting nomor urut paling besar.
atau misalnya diberi gambar berbentuk panah-panah yang diarahkan kepada dimana nama caleg itu berada.
bukan kah itu lebih efisien dan efektif dari pada menempelkan poto yang tidak bermaksud seperti yang dilakukan kebanyakan caleg??
Selasa, 24 Maret 2009
disiplin ilmu politik : suatu pengantar
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang berjudul “Sejarah, Kajian, Ruang Lingkup, Pendekatan, dan Metode Ilmu Politik” ini merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran yang dilakukan dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Politik.
Ilmu politik adalah ilmu yang sudah lama dikaji oleh masyarakat di dunia, akan tetapi masih sangat baru bagi kami, mahasiswa baru di fakultas ilmu sosial politik ini. Pola pembelajaran mengharuskan kami “melek” politik, dan tidak terlalu acuh mengenai hal ini sama seperti yang terjadi beberapa tahun kebelakang. Pasti ada beragam kesulitan yang terjadi dalam proses pembelajaran ini, akan tetapi semoga hal ini menjadi pengalaman baru yang dapat menghantarkan pada titik keberhasilan.
Terima kasih kami haturkan kepada Drs. Widodo A. Setianto, M.Si. selaku dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Politik yang telah memberikan bimbingan dalam pengerjaan materi ini. Kemudian, ribuan terima kasih kami sampaikan kepada segenap teman –teman komunikasi 2008 yang tidak bisa disebutkan satu persatu untuk segala bentuk bantuan yang mempermudah kerja kami.
Tak ada gading yang tak retak, sudah dapat dipastikan terdapat berbagai macam kekurangan dalam materi ini, maka dari itu ttanpa mengurangi rasa hormat kiranya dapat memberikan saran maupun kritik agar tercinta suatu tulisan yang lebih baik keesokkan harinya.
Terimakasih atas perhatiannya, semoga hal ini dapat berguna sesuai harapan kami.
Yogyakarta, September 2008
Kelompok II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………..1
PENDAHULUAN………………………………………………………………….3
SEJARAH ILMU POLITIK………………………………………………………...4
METODE ILMU POLITIK………………………………………………….……...5
RUANG LINGKUP ILMU POLITIK………………………………………………7
OBJEK / KAJIAN ILMU POLITIK………………………………………………...10
PENUTUP……………………………………………………………………......…11
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………11
I. PENDAHULUAN
Secara harfiah pengertian politik dapat dilihat dari berbgai bahasa. Dari bahasa arab politik berasal dari kata syiasah yang berarti siasat. Dari bahasa inggris politic yang berarti cerdas dan bijaksana. Sedangkan dari yunani kuno politik berasal dari kata polis yang berarti negara kota. Keanekaragaman sumber bahasa tersebut mengerucut pada kenegaraan dan kekeuasaan. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu politik adalah kekuasaan atau kekuatan yang dilakukan dengan kebijaksanaan dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat termasuk di dalamnya adalah pengaturan konflik sehingga menjadi konsensus nasional.
Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari mengenai segala hal yang berkaitan dengan politik itu sendiri. Ilmu politik memiliki lima konsep pokok yaitu:
1. negara
negara merupakan suatu kawasan teritorial yang didalamnya terdapat sejumlah penduduk yang mendiaminya, dan memiliki kedaulatan untuk menjalankan pemerintahan, dan keberadaannya diakui oleh negara lain.kekuasaan
kekuasaan adalah kemampuan sesuatu untuk mempengaruhi tingkah laku sesuatu yang lainnya agar tingkah laku tersebut terpola sedemikian rupa sesuai dengan yang diingnkan oleh pemegang penguasa.
2. pengambilan keputusan
keputusan adalah membuat pilihan di antara beberapa alternatif pilihan lainnya, pengambilan keputusan adalah serangkaian proses untuk mencapai suatu keputusan.
3. kebijaksanaan
kebijaksanaan adalah sesuatu keputusan oleh pelaku politik untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
4. pembagian dan alokasi.
Adalah pembagian atau penjatahan dari nilai- nilai dalam masyarakat.
Kemudian, dikenal berbagai sistem politik, yang dianut oleh negara-negara di dunia,antara lain : autoritarian, demokrasi, diktatorisme, fasisme, federalisme, feminisme, fundamentalisme keagamaan, globalisme, imperialisme, kapitalisme, komunisme, liberalisme, libertarianisme, marxisme, meritokrasi, monarki, nasionalisme, rasisme, sosialisme, theokrasi, totaliterisme, oligarki, dan lain lain.
Terdapat beberapa hal yang menjadi sasaran dilakukannya politik. Antara lain:
1. Pendidikan
2. Kekayaan
3. Kesehatan
4. Keterampilan
5. Kasih sayang
6. Kejujuran/keadilan
7. Keseganan
Pendekatan Ilmu politik
Terdapat beberapa pendekatan dalam ilmu politik yang sering dilakukan oleh para ilmuan politik. Pertama adalah pendekatan tingkah laku berhubungan dengan fakta, empiris dan lain lain. Yang kedua adalah pendekatan yang dilakukan secara tradisional yaitu yang berhubungan dengan nilai dan filsafat.
II. SEJARAH ILMU POLITIK
Ilmu politik merupakan satu cabang dari ilmu-ilmu sosial yang memiliki sejarah yang kompleks. Dalam satu pendapat dikemukakan bahwa ilmu politik adalah ilmu sosial tertua di dunia. Hal ini ditinjau dari pengertian politik sendiri, yaitu sebagai pembahasan secara rasionil dari berbagai aspek negara dan kehidupan politik.¬¬¬1
Fakta mengatakan bahwa ilmu politik telah dikenal sejak sebelum masehi. Hal ini terbukti dari karya-karya para ahli, yaitu Herodotus, Plato, Aristoteles, dan sebagainya. Yang menunjukan bahwa di Yunani Kuno telah terjadi pemikiran mengenai negara dan strukturnya sejak ditahun 450 s.M. Aristoteles, seorang filosof Yunani yang dianggap sebagai bapak ilmu politik, sejak beberapa abad yang lalu telah membahas secara struktural mengenai peranan warga negara dalam negaranya. Yang dianggap sebuah negara oleh Aristoteles adalah mereka yang turut ambil andil dalam tata pemerintahan, “He who the power to take part in the deliberative or judical administration of any state is said by us to be a citizen of that state… and he is a citizen in the highest sense who shares in the honour of the stage…”2
Bagi Plato dan Aristoteles, di Yunani Kuno terdapat organisasi warga negara yang disebut polis. Polis bertujuan menjamin kehidupan yang baik bagi warga negaranya dan polis itu dipertahankan demi kehidupan yang baik pula.3 Di Yunani pula, mulai timbul bentuk negara demokrasi langsung. Dan karena telah melahirkan struktur negara yang baik maka ilmu politik pada zaman Yunani Kuno dianggap sebagai the master science. Polis Yunani memiliki sebuah sifat khas, yaitu totaliter. Totaliter memiliki arti bahwa polis merupakan suatu struktur yang meliputi negara dan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan.
Lain pula di Asia, India misalnya, tulisan mengenai politik yang terkumpul dalam kesusastraan Dharma Sastra dan Artha Sastra yang berasal dari masa 500 s.M. Cina, filsuf-filsuf seperti Consfucius atau K’ung Fu Tzu, Mencius, dan Shang Yang telah melahirkan teori dari masa sebelum masehi. Arab abad 11 M terdapat karya al-Marwardi berjudul al-Ahkam as-Sulthaniyyah
Majapahit, sekitar abad ke-13 dan ke-15 M dan Babad Tanah Jawi, merupakan penggagas beberapa karya tulisan mengenai kenegeraan di Indonesia.
Di Eropa, Jerman, Austria, Perancis, Inggris permasalahan politik banyak dipengaruhi ilmu hukum, dan bahasanya dianggap tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Sampai didirikannya sekolah politik di Inggris, ilmu politik dikenal sebagai ilmu yang memiliki disiplin tersendiri yang mampu mendapat tempat dalam kurikulum peguruan tinggi.
Di Amerika Serikat, ilmu politik berkembang bersamaan dengan perkembangan sosiologi dan psikologi, sehingga sedikit banyak kedua ilmu tersebut mempengaruhi metodologi dan terminologi ilmu politik. Kemudian pengakuan ilmu politik berjalan secara cepat dan dapat dilihat dari didirikannya American Political Science Association (APSA) pada tahun 1904.
Usai Perang Dunia II, ilmu politik berkembang sangat pesat. Hal ini didorong oleh badan internasional, UNESCO. Terdorong oleh ketidakseragaman dalam terminologi dan metodologi ilmu politik.
Penelitian mengenai negara dilakukan secara pesat oleh berbagai Falkutas Hukum di dunia, termasuk Indonesia. Maka dari itu tidak mengherankan bahwa, pada awal perkembangannya ilmu politik di Indonesia masih dibayang-bayangi ilmu hukum. Akan tetapi secara berangsur-angsur ilmu politik menjadi suatu ilmu yang memiliki disiplin khusus di Indonesia.
Pada abad ke-18, munculnya aliran liberalisme di Eropa tugas negara dianggapa negatif, karena dianggap sebagai organisasi yang hanya menjamin ketertiban dan keamanan para warga negaranya yang secara terpaksa diterima keberadaannya. Kehidupan sosial menjadi tabu dan semakin sedikit pula campur tangan negara terhadap kehidupan sosial. Mengingat liberalisme merupakan faham yang mengutamakan kebebasan individu.
Saat ini, negara sebagai komponen utama dari ilmu politik selalu berada dalam dua ciri khas, yaitu totalitarisme yang dianut oleh polis pada zaman Yunani Kuno dan liberalisme yang sebagaimana dianut oleh Eropa pada abad ke-18.
III. METODE ILMU POLITIK
Kata metodologi secara etimologi dapat diuraikan yaitu, metode berarti cara, sedangkan logi berasal dari kata logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi metodologi adalah ilmu pengetahuan tentang cara untuk mengerjakan sesuatu agar diperoleh pengertian ilmiah terhadap suatu pengetahuan yang benar.
Secara istilah pengertian metode adalah cara-cara dan alat perlengkapan yang membantu usaha ilmu untuk menemukan kebenaran yang objektif. Semakin tepat metode yang dipergunakan, maka ilmu tersebut akan semakin mendekati kenyataan. Khusus bagi ilmu sosial, metode dipandang memiliki peranan yang sangat penting untuk mengkaji objek-objek yang berkaitan dengan ilmu sosial.
Metode dalam ilmu sosial dapat disetarakan dengan alat-alat dalam penelitian eksakta. Namun sebuah perbedaan muncul bahwa ilmu eksakta berobjekkan benda mati yang merupakan fator konstan. Dan ilmu sosial berobjekkan makhluk yang merupakan bagian dari lingkungan sekelilingnya, sehingga semua kejadian yang terjadi dalam lingkup ilmu sosial menjadi faktor-faktor yang variabel.
Dikarenakan lmu politik merupakan cabang dari ilmu sosial yang memiliki faktor variabel, maka dalma pengkajiannya harus digunakan banyak metode agar ilmu politik semakin dapat menambah sifat keilmiahannya. Metode-metode yang dibahas berdasarkan atas Induksi, yaitu kesimpulan umum yang diperoleh dari pemikiran peristiwa konkrit. Dan deduksi, yaitu proses penyelidikan yang didasarkan atas azas umum yang dipergunakan untuk menerangkan peristiwa khusus. Berikut metode yang dipergunakan oleh para ahli ilmu politik dalam pengkajian penelitiannya:
1. Metode Filosofis
Metode ini dipergunakan untuk mempelajari masalah-masalah politik yang langsung berhubungan dengan kehidupan politik manusia yang dikaji sedalam-dalamnya. Masalah-masalah fundamental dalam ilmu politik diselidiki secara terperinci sampai pada inti hakekatnya. Melalui metode ini ilmuan politik menyelidiki objek ilmu politik dan digabungkan dengan suatu ide abstrak. Dan dari ide-ide abstrak itulah dibuat deduksi- deduksi tentang gejala yang diselidiki. Metode filosofis bersifat deduktif, spekulatif dan terkadang metafisis.
2. Metode Yuridis
Lembaga – lembaga atau gejala- gejala politik yang diselidiki dengan penggunaan metode yuridis ditinjau dengan dengan menitik beratkan aspek– aspek yuridisnya. Penggunaan metode menggunakan keserasian dalam negara sehingga melahirkan lewajiban antara pemerintah dan rakyatnya dan kemudian merupakan aturan yang harus diikuti sehingga pada saatnya akan semakin meningkat keberadaan keserasian tersebut dalam kehidupan bernegara.
Ilmuan politik yang pertama kali menggunakan metode ini adalah ilmuan berkebangsaan Jerman, Von Gerber. Dalam perkembangannya motede ini digunakan oleh beberapa ilmuan politik seperti, Georg Jellinek, Paul Laband, Hans Kelsen dan lain lain. Pada umumnya penggunaan metode ini bersamaan dengan penggunaan metode historis – komparatif.
3. Metode Historis
Metode ini didasarkan atas analisa kenyataan perjalan waktu dari kenyataan-kenyataan sejarah yang ditinjau dari asal mula, pertumbuhan , perkembangan, sebab akibat, dan bagaimana perwujudan sebab akibat tersebut dalam sejarah. Metode historis dalam penggunaannya selalu bergandengan dengan deskriftif analisa dan metode perbandingan. Cara kerja dari metode ini adalah dengan cara menyelidiki bagian doktrin evolusi dari kehidupan sosial – politik manusia. Akan tetapi bila berkaca pada kenyataan yang sekarang terjadi, metode historis sudah cukup ditinggalkan di bandingkan dengan maraknya penggunaan metode ini dahulu, karena terjadi perbedaan yang signifikan antara fenomena politik pada masa lalu dan fenomena yang terjadi pada dewasa ini baik dari segi jenis maupun sifatnya.
4. Metode Ekonomi
Metode ini dipergunakan para sarjana ilmu politik untuk mengetahui aspek-aspek ekonomis dari suatu materi. Dengan kata lain, semua gejala sosial politik dianggap sebagai penjelmaan dari hubungan produksi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
5. Metode Sosiologi
Dalam metode ini lembaga politik dilihat sebagai gejala sosial berupa organisme sosial. Organisme sosial itu meliputi para individu sebagai subjek penting dalam lembaga politik. Fungsi utama dari metopde ini adalah untuk mendapatkan gambaran- gambaran yang nyata mengenai keadaan lembaga-lembaga politik.
6. Metode Psikoligis
Penyelidikan dengan menggunakan metode ini menggunakan dalil-dalil serta hukum-hukum psikologis untuk berbagai masalah politik. Hubungan politik digambarkan berdasarkan fungsi, motif, peranan kepribadian , sifat psikis dari pihak dalam ruang lingkup tersebut. metode ini banyak digunakan dalam penyelidikan kasus-kasus potik yang berhubungan dengan kepribadian. Misalnya mengenai kepemimpinan.
7. Metode Induksi
Metode induksi adalah suatu metode dengan cara kerja mengumpulkan beberapa fakta dan data tertentu kemudian menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan
8. Metode Deduksi
Metode deduksi yaitu metode yang menganalisis fakta dan data dengan cara memaksimalkan potensi akal agar tercipta kerasionalan dalam proses penguraiannya.
9. Metode Dialektis
Metode dialektis menggunakan proses tanya jawab untuk mencari pengertian. Teknik komunikasi demikian, dapat diperoleh hubungan antar semua pihak dengan tujuan agar tidak terjadi ketimpangan dan mengharapkan keterbukaan dan saling mengenal.
10. Metode Perbandingan
Metode ini menggunakan proses pengukuran sesuatu berdasarkan perbedaan dan persamaan satu dengan yang lain yang sejenis. Misalnya, dengan membuat pengukuran kepada suatu kelompok tertentu untuk melihat keberagaman sudut pandang.
11. Metode Fungsional
Metode fungsional yaitu suatu metode yang dalam cara kerjanya membahas objek dan gejala politik, contoh fungsi dan pengaruh baik positif maupun negatif dalam penyelenggaraan politik pemerintahan.
12. Metode Sistematis
Metode sistematis yaitu metode yang berangkat dari penghimpunan materi yang teratur, seimbang, berkesinambungan, saling terkait satu sama lain, dan memiliki arah tujuan yang sama.
13. Metode Sinkretis
Metode ini menggabungkan bebeparapa faktor seperti: data, aliran, keilmuan, budaya, dan sistem yang diproses sedemikian rupa untuk mendapatkan pemikiran yang objektif.
III. RUANG LINGKUP ILMU POLITIK
Menurut badan internasional, UNESCO terdapat batasan-batasan yang dapat membedakan ilmu politik dengan ilmu lainnya. Batasannya adalah sebagai berikut:
1. Bidang Teori Politik
a. Teori Politik
Generalisasi abstrak mengenai beberapa fenomena. Penyusunan teori selalu memakai konsep yang lahir dari pemikiran manusia yang bersifat abstrak.
Teori politik adalah bahasan mengenai tujuan dari kegiatan politik, cara-cara untuk mencapai tujuan itu, kemungkinan dan kebutuhan yang ditimbulkan situasi politik tertentu, dan kewajiban-kewajiban dalam tujuan politik.
Menurut Thomas P. Jenkin, dalam The Study of Political Theory, terdapat dua macam teori politik:
• Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan menentukan norma politik. Yang termasuk golongan ini antara lain, filsafat politik, teori politik sistematis, ideologi politik
• Teori-teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma atau nilai politik.
b. Sejarah perkembangan ide-ide politik
2. Bidang Lembaga Politik
a. Undang-undang dasar atau constitution
Menurut E. C. S. Wade dalam buku Constitutional Law undang-undang dasar adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut. Undang-undang dasar adalah bagian tertulis dari suatu konstitusi sedangkan konstitusi menulis peraturan yang tertulis dan tidak tertulis.
Undang-undang dasar dapat dianggap sebagai kumpulan azas yang menetapkan bagaimana kekuasaan dalam suatu negara dibagi, cara-cara bagaimana pusat kekuasaan bekerjasama antara satu dengan yang lain dan merekam hubungan-hubungan dalam suatu negara.
b. Pemerintahan Negara
c. Pemerintahan Daerah
d. Administrasi Negara
e. Perbandingan Lembaga Politik
3. Bidang Kepartaian, Golongan, dan Pendapat Umum
a. Partai Politik
Partai politik pertama-tama lahir di negara-negara Eropa Barat secara spontan dan berkembang menjadi suatu penghubung antara pemerintah dan rakyat. Partai politik dianggap sebagai manifestasi dari sistem politik yang sudah modern. Secara umum partai politik adalah suatu kesatuan anggota yang memiliki orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama yang dikumpulkan secara terorganisir dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan melaksanakan kebijaksanaan politik. Partai politik memiliki beberapa fungsi di dalam negara demokratis antara lain:
• Partai sebagai sarana komunikasi politik. Dalam hal ini tugas partai politik adalah menyalurkan berbagai pendapat dan aspirasi masyarakat sehingga dapat menekan kesimpangsiuran pendapat dikalangan masyarakat.
• Partai politik sebagai sarana sosialisasi politik. Di dalam ilmu poltik, sosialisasi politik berarti sebagai proses dimana seseorang dapat memahami fenomena politik yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu sosialisasi politik dapat diartikan sebagai proses yang berkaitan dengan proses penyampaian norma-norma dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi yang lain oleh masyarakat.
• Partai politik sebagai sarana rekruitmen politik. Dalam kehidupan berpartai, sudah sewajibnya untuk mencari dan mengajak sebanyak-banyaknya orang yang berkompeten untuk turut serta dalam proses politik.
• Partai Politik sebagai sarana pengatur konflik. Konflik yang dapat terjadi misalnya persaingan dalam merebutkan kursi dalam sistem pemerintahan, masalah demokrasi, dan perbedaan pendapat dalam sistem kemasyarakatan.
b. Golongan-golongan dan organisasi-organisasi
c. Partisipasi masyarakat dan pemerintah
4. Bidang Hubungan Internasional
a. Politik Internasional
b. Organisasi dan administrasi internasional
c. Hukum internasional
Dalam perkembangannya pada dewasa ini, ilmu politik lebih memiliki banyak kesamaan dengan ilmu-ilmu lain. Maka untuk memperluas bahasan dari ilmu tersebut terdapat beberapa pembagian ruang lingkup lagi yang berkaitan dengan hal tersebut seperti yang tecantum sebagai berikut:
1. bidang kebiksanaan pemerintah
a. pengambilan keputusan pemerintah
b. sistem pendelegasian wewenang
c. hubungan pusat dengan daerah
2. bidang ekonomi politik
a. politik perdagangan dunia
b. globalisasi ekonomi
c. kutub-kutub ekonomi yang berpengaruh
3. bidang sosiologi politik
a. pengkajian pressure group
b. pengkasian interest group
c. telaah budaya politik
4. bidang psikologi politik
a. teori penguasaan massa
b. teori-teori demokrasi
c. normalisasi kehidupan masyarakat
5. bidang filsafat politik
a. estetika politik
b. etika politik
c. logika politik
6. bidang pelayanan politik
a. administrasi pemerintahan daerah dan pusat
b. teori-teori organisasi
c. manajemen pemerintah
7. bidang aturan politik
a. perubahan dan pembentukan konstitusi
b. legitimasi kekuasaan
c. peraturan-peraturan daerah dan pusat
IV. KAJIAN / OBJEK ILMU POLITIK
Ilmu politik sudah diakui sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, memiliki disiplin ilmu tersendiri serta memiliki objek sebagai prasyaratnya. Objek adalah sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan, apa yang diamati, diteliti, dipelajari serta sesuatu yang dibahas dalam displin ilmu tertentu.
Objek terdiri dari dua macam yaitu objek formal dan objek materil. Objek materil suatu ilmu bisa saja sama dengan objek materil ilmu yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan objek materil lebih bersifat umum dan merupakan topik yang bisa saja dibahas secara global. Akan tetapi yang membedakan terletak bada objek formilnya, objek formil suatu ilmu dengan ilmu lain pastilah berbeda dikarenakan sudut pandang yang dikenakan berasal dari ilmu masing- masing. Kemudian, objek formil selalu ditinjau secara khusus dan spesifik. Objek materil dapat dikatakan sebagai persoalan pokok, sedangkan objek formal disebut pusat perhatian.
Objek materil yang dibahas dalam ilmu politik identik dengan objek materil yang dimiliki oleh ilmu kenegaraan lainnya, yaitu negara. Ilmu kenegaraan itu adalah ilmu politik, ilmu pemerintahan, ilmu hukum tata negara, ilmu administrasi negara, dan ilmu negara.
Ilmu politik memiliki negara sebagai objek materinya, sedangkan secara khusus ilmu politik mengkaji mengenai:
• pembuatan keputusan
• kekuasaan
adalah kemampuan sesuatu untuk mempengaruhi tingkah laku sesuatu yang lainnya agar tingkah laku tersebut terpola sedemikian rupa sesuai dengan yang diingnkan oleh pemegang penguasa. Manusia memiliki sifat alami sebagai penguasa, manusia seringkali berkehendak dan melakukan segara cara agar kemauannya tersebut dapat tercapai, salah satunya dengan cara memiliki kekuasaan terhadap hal tertentu
• kekuatan kelompok
• keresahan masyarakat
• interest group
• sistem pemerintahan termasuk pemerintah dan organisasi internasional
• perilaku politik
• kebijakan publik.
• keberhasilan pemerintahan.
• Kepentingan partai politik
• Konflik
• Perilaku kepemimpinan
• Budaya politik
• Sosialisasi politik
PENUTUP
Dari berbagai uraian di atas dapat ditarik suatu simpulan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang sudah sangat lama ada di dunia ini. Politik adalah suatu cabang ilmu sosial yang berkaitan dengan negara beserta semua aspek pendukungnya.
Untuk mempelajari masalah ilmu politik, kita membutuhkan beberapa metode sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ruang lingkup ilmu politik membuat ilmu politik tidak sama dengan ilmu sosial lainnya, hal itu membatasi materi-materi dalam ilmu politik agar tidak masuk ke dalam ilmu lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Budiarjo, Miriam. Dasar Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. GRAMEDIA PUSTAKA, 2005
Isjwara, F. Pengantar Ilmu Politik. Bandung : Penerbit Binacipta, 1974
Syafiie, Kencana Inu. Ilmu Politik . Jakarta : Rineka Cipta, 1997
http://feedfury.com/content/17146947-pendekatan_penelitian_sejarah.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Politik.html
http://pengantarilmupolitik.blogspot.com/2006_03_01_archive.html
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang berjudul “Sejarah, Kajian, Ruang Lingkup, Pendekatan, dan Metode Ilmu Politik” ini merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran yang dilakukan dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Politik.
Ilmu politik adalah ilmu yang sudah lama dikaji oleh masyarakat di dunia, akan tetapi masih sangat baru bagi kami, mahasiswa baru di fakultas ilmu sosial politik ini. Pola pembelajaran mengharuskan kami “melek” politik, dan tidak terlalu acuh mengenai hal ini sama seperti yang terjadi beberapa tahun kebelakang. Pasti ada beragam kesulitan yang terjadi dalam proses pembelajaran ini, akan tetapi semoga hal ini menjadi pengalaman baru yang dapat menghantarkan pada titik keberhasilan.
Terima kasih kami haturkan kepada Drs. Widodo A. Setianto, M.Si. selaku dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Politik yang telah memberikan bimbingan dalam pengerjaan materi ini. Kemudian, ribuan terima kasih kami sampaikan kepada segenap teman –teman komunikasi 2008 yang tidak bisa disebutkan satu persatu untuk segala bentuk bantuan yang mempermudah kerja kami.
Tak ada gading yang tak retak, sudah dapat dipastikan terdapat berbagai macam kekurangan dalam materi ini, maka dari itu ttanpa mengurangi rasa hormat kiranya dapat memberikan saran maupun kritik agar tercinta suatu tulisan yang lebih baik keesokkan harinya.
Terimakasih atas perhatiannya, semoga hal ini dapat berguna sesuai harapan kami.
Yogyakarta, September 2008
Kelompok II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………..1
PENDAHULUAN………………………………………………………………….3
SEJARAH ILMU POLITIK………………………………………………………...4
METODE ILMU POLITIK………………………………………………….……...5
RUANG LINGKUP ILMU POLITIK………………………………………………7
OBJEK / KAJIAN ILMU POLITIK………………………………………………...10
PENUTUP……………………………………………………………………......…11
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………11
I. PENDAHULUAN
Secara harfiah pengertian politik dapat dilihat dari berbgai bahasa. Dari bahasa arab politik berasal dari kata syiasah yang berarti siasat. Dari bahasa inggris politic yang berarti cerdas dan bijaksana. Sedangkan dari yunani kuno politik berasal dari kata polis yang berarti negara kota. Keanekaragaman sumber bahasa tersebut mengerucut pada kenegaraan dan kekeuasaan. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu politik adalah kekuasaan atau kekuatan yang dilakukan dengan kebijaksanaan dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat termasuk di dalamnya adalah pengaturan konflik sehingga menjadi konsensus nasional.
Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari mengenai segala hal yang berkaitan dengan politik itu sendiri. Ilmu politik memiliki lima konsep pokok yaitu:
1. negara
negara merupakan suatu kawasan teritorial yang didalamnya terdapat sejumlah penduduk yang mendiaminya, dan memiliki kedaulatan untuk menjalankan pemerintahan, dan keberadaannya diakui oleh negara lain.kekuasaan
kekuasaan adalah kemampuan sesuatu untuk mempengaruhi tingkah laku sesuatu yang lainnya agar tingkah laku tersebut terpola sedemikian rupa sesuai dengan yang diingnkan oleh pemegang penguasa.
2. pengambilan keputusan
keputusan adalah membuat pilihan di antara beberapa alternatif pilihan lainnya, pengambilan keputusan adalah serangkaian proses untuk mencapai suatu keputusan.
3. kebijaksanaan
kebijaksanaan adalah sesuatu keputusan oleh pelaku politik untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
4. pembagian dan alokasi.
Adalah pembagian atau penjatahan dari nilai- nilai dalam masyarakat.
Kemudian, dikenal berbagai sistem politik, yang dianut oleh negara-negara di dunia,antara lain : autoritarian, demokrasi, diktatorisme, fasisme, federalisme, feminisme, fundamentalisme keagamaan, globalisme, imperialisme, kapitalisme, komunisme, liberalisme, libertarianisme, marxisme, meritokrasi, monarki, nasionalisme, rasisme, sosialisme, theokrasi, totaliterisme, oligarki, dan lain lain.
Terdapat beberapa hal yang menjadi sasaran dilakukannya politik. Antara lain:
1. Pendidikan
2. Kekayaan
3. Kesehatan
4. Keterampilan
5. Kasih sayang
6. Kejujuran/keadilan
7. Keseganan
Pendekatan Ilmu politik
Terdapat beberapa pendekatan dalam ilmu politik yang sering dilakukan oleh para ilmuan politik. Pertama adalah pendekatan tingkah laku berhubungan dengan fakta, empiris dan lain lain. Yang kedua adalah pendekatan yang dilakukan secara tradisional yaitu yang berhubungan dengan nilai dan filsafat.
II. SEJARAH ILMU POLITIK
Ilmu politik merupakan satu cabang dari ilmu-ilmu sosial yang memiliki sejarah yang kompleks. Dalam satu pendapat dikemukakan bahwa ilmu politik adalah ilmu sosial tertua di dunia. Hal ini ditinjau dari pengertian politik sendiri, yaitu sebagai pembahasan secara rasionil dari berbagai aspek negara dan kehidupan politik.¬¬¬1
Fakta mengatakan bahwa ilmu politik telah dikenal sejak sebelum masehi. Hal ini terbukti dari karya-karya para ahli, yaitu Herodotus, Plato, Aristoteles, dan sebagainya. Yang menunjukan bahwa di Yunani Kuno telah terjadi pemikiran mengenai negara dan strukturnya sejak ditahun 450 s.M. Aristoteles, seorang filosof Yunani yang dianggap sebagai bapak ilmu politik, sejak beberapa abad yang lalu telah membahas secara struktural mengenai peranan warga negara dalam negaranya. Yang dianggap sebuah negara oleh Aristoteles adalah mereka yang turut ambil andil dalam tata pemerintahan, “He who the power to take part in the deliberative or judical administration of any state is said by us to be a citizen of that state… and he is a citizen in the highest sense who shares in the honour of the stage…”2
Bagi Plato dan Aristoteles, di Yunani Kuno terdapat organisasi warga negara yang disebut polis. Polis bertujuan menjamin kehidupan yang baik bagi warga negaranya dan polis itu dipertahankan demi kehidupan yang baik pula.3 Di Yunani pula, mulai timbul bentuk negara demokrasi langsung. Dan karena telah melahirkan struktur negara yang baik maka ilmu politik pada zaman Yunani Kuno dianggap sebagai the master science. Polis Yunani memiliki sebuah sifat khas, yaitu totaliter. Totaliter memiliki arti bahwa polis merupakan suatu struktur yang meliputi negara dan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan.
Lain pula di Asia, India misalnya, tulisan mengenai politik yang terkumpul dalam kesusastraan Dharma Sastra dan Artha Sastra yang berasal dari masa 500 s.M. Cina, filsuf-filsuf seperti Consfucius atau K’ung Fu Tzu, Mencius, dan Shang Yang telah melahirkan teori dari masa sebelum masehi. Arab abad 11 M terdapat karya al-Marwardi berjudul al-Ahkam as-Sulthaniyyah
Majapahit, sekitar abad ke-13 dan ke-15 M dan Babad Tanah Jawi, merupakan penggagas beberapa karya tulisan mengenai kenegeraan di Indonesia.
Di Eropa, Jerman, Austria, Perancis, Inggris permasalahan politik banyak dipengaruhi ilmu hukum, dan bahasanya dianggap tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Sampai didirikannya sekolah politik di Inggris, ilmu politik dikenal sebagai ilmu yang memiliki disiplin tersendiri yang mampu mendapat tempat dalam kurikulum peguruan tinggi.
Di Amerika Serikat, ilmu politik berkembang bersamaan dengan perkembangan sosiologi dan psikologi, sehingga sedikit banyak kedua ilmu tersebut mempengaruhi metodologi dan terminologi ilmu politik. Kemudian pengakuan ilmu politik berjalan secara cepat dan dapat dilihat dari didirikannya American Political Science Association (APSA) pada tahun 1904.
Usai Perang Dunia II, ilmu politik berkembang sangat pesat. Hal ini didorong oleh badan internasional, UNESCO. Terdorong oleh ketidakseragaman dalam terminologi dan metodologi ilmu politik.
Penelitian mengenai negara dilakukan secara pesat oleh berbagai Falkutas Hukum di dunia, termasuk Indonesia. Maka dari itu tidak mengherankan bahwa, pada awal perkembangannya ilmu politik di Indonesia masih dibayang-bayangi ilmu hukum. Akan tetapi secara berangsur-angsur ilmu politik menjadi suatu ilmu yang memiliki disiplin khusus di Indonesia.
Pada abad ke-18, munculnya aliran liberalisme di Eropa tugas negara dianggapa negatif, karena dianggap sebagai organisasi yang hanya menjamin ketertiban dan keamanan para warga negaranya yang secara terpaksa diterima keberadaannya. Kehidupan sosial menjadi tabu dan semakin sedikit pula campur tangan negara terhadap kehidupan sosial. Mengingat liberalisme merupakan faham yang mengutamakan kebebasan individu.
Saat ini, negara sebagai komponen utama dari ilmu politik selalu berada dalam dua ciri khas, yaitu totalitarisme yang dianut oleh polis pada zaman Yunani Kuno dan liberalisme yang sebagaimana dianut oleh Eropa pada abad ke-18.
III. METODE ILMU POLITIK
Kata metodologi secara etimologi dapat diuraikan yaitu, metode berarti cara, sedangkan logi berasal dari kata logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi metodologi adalah ilmu pengetahuan tentang cara untuk mengerjakan sesuatu agar diperoleh pengertian ilmiah terhadap suatu pengetahuan yang benar.
Secara istilah pengertian metode adalah cara-cara dan alat perlengkapan yang membantu usaha ilmu untuk menemukan kebenaran yang objektif. Semakin tepat metode yang dipergunakan, maka ilmu tersebut akan semakin mendekati kenyataan. Khusus bagi ilmu sosial, metode dipandang memiliki peranan yang sangat penting untuk mengkaji objek-objek yang berkaitan dengan ilmu sosial.
Metode dalam ilmu sosial dapat disetarakan dengan alat-alat dalam penelitian eksakta. Namun sebuah perbedaan muncul bahwa ilmu eksakta berobjekkan benda mati yang merupakan fator konstan. Dan ilmu sosial berobjekkan makhluk yang merupakan bagian dari lingkungan sekelilingnya, sehingga semua kejadian yang terjadi dalam lingkup ilmu sosial menjadi faktor-faktor yang variabel.
Dikarenakan lmu politik merupakan cabang dari ilmu sosial yang memiliki faktor variabel, maka dalma pengkajiannya harus digunakan banyak metode agar ilmu politik semakin dapat menambah sifat keilmiahannya. Metode-metode yang dibahas berdasarkan atas Induksi, yaitu kesimpulan umum yang diperoleh dari pemikiran peristiwa konkrit. Dan deduksi, yaitu proses penyelidikan yang didasarkan atas azas umum yang dipergunakan untuk menerangkan peristiwa khusus. Berikut metode yang dipergunakan oleh para ahli ilmu politik dalam pengkajian penelitiannya:
1. Metode Filosofis
Metode ini dipergunakan untuk mempelajari masalah-masalah politik yang langsung berhubungan dengan kehidupan politik manusia yang dikaji sedalam-dalamnya. Masalah-masalah fundamental dalam ilmu politik diselidiki secara terperinci sampai pada inti hakekatnya. Melalui metode ini ilmuan politik menyelidiki objek ilmu politik dan digabungkan dengan suatu ide abstrak. Dan dari ide-ide abstrak itulah dibuat deduksi- deduksi tentang gejala yang diselidiki. Metode filosofis bersifat deduktif, spekulatif dan terkadang metafisis.
2. Metode Yuridis
Lembaga – lembaga atau gejala- gejala politik yang diselidiki dengan penggunaan metode yuridis ditinjau dengan dengan menitik beratkan aspek– aspek yuridisnya. Penggunaan metode menggunakan keserasian dalam negara sehingga melahirkan lewajiban antara pemerintah dan rakyatnya dan kemudian merupakan aturan yang harus diikuti sehingga pada saatnya akan semakin meningkat keberadaan keserasian tersebut dalam kehidupan bernegara.
Ilmuan politik yang pertama kali menggunakan metode ini adalah ilmuan berkebangsaan Jerman, Von Gerber. Dalam perkembangannya motede ini digunakan oleh beberapa ilmuan politik seperti, Georg Jellinek, Paul Laband, Hans Kelsen dan lain lain. Pada umumnya penggunaan metode ini bersamaan dengan penggunaan metode historis – komparatif.
3. Metode Historis
Metode ini didasarkan atas analisa kenyataan perjalan waktu dari kenyataan-kenyataan sejarah yang ditinjau dari asal mula, pertumbuhan , perkembangan, sebab akibat, dan bagaimana perwujudan sebab akibat tersebut dalam sejarah. Metode historis dalam penggunaannya selalu bergandengan dengan deskriftif analisa dan metode perbandingan. Cara kerja dari metode ini adalah dengan cara menyelidiki bagian doktrin evolusi dari kehidupan sosial – politik manusia. Akan tetapi bila berkaca pada kenyataan yang sekarang terjadi, metode historis sudah cukup ditinggalkan di bandingkan dengan maraknya penggunaan metode ini dahulu, karena terjadi perbedaan yang signifikan antara fenomena politik pada masa lalu dan fenomena yang terjadi pada dewasa ini baik dari segi jenis maupun sifatnya.
4. Metode Ekonomi
Metode ini dipergunakan para sarjana ilmu politik untuk mengetahui aspek-aspek ekonomis dari suatu materi. Dengan kata lain, semua gejala sosial politik dianggap sebagai penjelmaan dari hubungan produksi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
5. Metode Sosiologi
Dalam metode ini lembaga politik dilihat sebagai gejala sosial berupa organisme sosial. Organisme sosial itu meliputi para individu sebagai subjek penting dalam lembaga politik. Fungsi utama dari metopde ini adalah untuk mendapatkan gambaran- gambaran yang nyata mengenai keadaan lembaga-lembaga politik.
6. Metode Psikoligis
Penyelidikan dengan menggunakan metode ini menggunakan dalil-dalil serta hukum-hukum psikologis untuk berbagai masalah politik. Hubungan politik digambarkan berdasarkan fungsi, motif, peranan kepribadian , sifat psikis dari pihak dalam ruang lingkup tersebut. metode ini banyak digunakan dalam penyelidikan kasus-kasus potik yang berhubungan dengan kepribadian. Misalnya mengenai kepemimpinan.
7. Metode Induksi
Metode induksi adalah suatu metode dengan cara kerja mengumpulkan beberapa fakta dan data tertentu kemudian menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan
8. Metode Deduksi
Metode deduksi yaitu metode yang menganalisis fakta dan data dengan cara memaksimalkan potensi akal agar tercipta kerasionalan dalam proses penguraiannya.
9. Metode Dialektis
Metode dialektis menggunakan proses tanya jawab untuk mencari pengertian. Teknik komunikasi demikian, dapat diperoleh hubungan antar semua pihak dengan tujuan agar tidak terjadi ketimpangan dan mengharapkan keterbukaan dan saling mengenal.
10. Metode Perbandingan
Metode ini menggunakan proses pengukuran sesuatu berdasarkan perbedaan dan persamaan satu dengan yang lain yang sejenis. Misalnya, dengan membuat pengukuran kepada suatu kelompok tertentu untuk melihat keberagaman sudut pandang.
11. Metode Fungsional
Metode fungsional yaitu suatu metode yang dalam cara kerjanya membahas objek dan gejala politik, contoh fungsi dan pengaruh baik positif maupun negatif dalam penyelenggaraan politik pemerintahan.
12. Metode Sistematis
Metode sistematis yaitu metode yang berangkat dari penghimpunan materi yang teratur, seimbang, berkesinambungan, saling terkait satu sama lain, dan memiliki arah tujuan yang sama.
13. Metode Sinkretis
Metode ini menggabungkan bebeparapa faktor seperti: data, aliran, keilmuan, budaya, dan sistem yang diproses sedemikian rupa untuk mendapatkan pemikiran yang objektif.
III. RUANG LINGKUP ILMU POLITIK
Menurut badan internasional, UNESCO terdapat batasan-batasan yang dapat membedakan ilmu politik dengan ilmu lainnya. Batasannya adalah sebagai berikut:
1. Bidang Teori Politik
a. Teori Politik
Generalisasi abstrak mengenai beberapa fenomena. Penyusunan teori selalu memakai konsep yang lahir dari pemikiran manusia yang bersifat abstrak.
Teori politik adalah bahasan mengenai tujuan dari kegiatan politik, cara-cara untuk mencapai tujuan itu, kemungkinan dan kebutuhan yang ditimbulkan situasi politik tertentu, dan kewajiban-kewajiban dalam tujuan politik.
Menurut Thomas P. Jenkin, dalam The Study of Political Theory, terdapat dua macam teori politik:
• Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan menentukan norma politik. Yang termasuk golongan ini antara lain, filsafat politik, teori politik sistematis, ideologi politik
• Teori-teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma atau nilai politik.
b. Sejarah perkembangan ide-ide politik
2. Bidang Lembaga Politik
a. Undang-undang dasar atau constitution
Menurut E. C. S. Wade dalam buku Constitutional Law undang-undang dasar adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut. Undang-undang dasar adalah bagian tertulis dari suatu konstitusi sedangkan konstitusi menulis peraturan yang tertulis dan tidak tertulis.
Undang-undang dasar dapat dianggap sebagai kumpulan azas yang menetapkan bagaimana kekuasaan dalam suatu negara dibagi, cara-cara bagaimana pusat kekuasaan bekerjasama antara satu dengan yang lain dan merekam hubungan-hubungan dalam suatu negara.
b. Pemerintahan Negara
c. Pemerintahan Daerah
d. Administrasi Negara
e. Perbandingan Lembaga Politik
3. Bidang Kepartaian, Golongan, dan Pendapat Umum
a. Partai Politik
Partai politik pertama-tama lahir di negara-negara Eropa Barat secara spontan dan berkembang menjadi suatu penghubung antara pemerintah dan rakyat. Partai politik dianggap sebagai manifestasi dari sistem politik yang sudah modern. Secara umum partai politik adalah suatu kesatuan anggota yang memiliki orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama yang dikumpulkan secara terorganisir dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan melaksanakan kebijaksanaan politik. Partai politik memiliki beberapa fungsi di dalam negara demokratis antara lain:
• Partai sebagai sarana komunikasi politik. Dalam hal ini tugas partai politik adalah menyalurkan berbagai pendapat dan aspirasi masyarakat sehingga dapat menekan kesimpangsiuran pendapat dikalangan masyarakat.
• Partai politik sebagai sarana sosialisasi politik. Di dalam ilmu poltik, sosialisasi politik berarti sebagai proses dimana seseorang dapat memahami fenomena politik yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu sosialisasi politik dapat diartikan sebagai proses yang berkaitan dengan proses penyampaian norma-norma dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi yang lain oleh masyarakat.
• Partai politik sebagai sarana rekruitmen politik. Dalam kehidupan berpartai, sudah sewajibnya untuk mencari dan mengajak sebanyak-banyaknya orang yang berkompeten untuk turut serta dalam proses politik.
• Partai Politik sebagai sarana pengatur konflik. Konflik yang dapat terjadi misalnya persaingan dalam merebutkan kursi dalam sistem pemerintahan, masalah demokrasi, dan perbedaan pendapat dalam sistem kemasyarakatan.
b. Golongan-golongan dan organisasi-organisasi
c. Partisipasi masyarakat dan pemerintah
4. Bidang Hubungan Internasional
a. Politik Internasional
b. Organisasi dan administrasi internasional
c. Hukum internasional
Dalam perkembangannya pada dewasa ini, ilmu politik lebih memiliki banyak kesamaan dengan ilmu-ilmu lain. Maka untuk memperluas bahasan dari ilmu tersebut terdapat beberapa pembagian ruang lingkup lagi yang berkaitan dengan hal tersebut seperti yang tecantum sebagai berikut:
1. bidang kebiksanaan pemerintah
a. pengambilan keputusan pemerintah
b. sistem pendelegasian wewenang
c. hubungan pusat dengan daerah
2. bidang ekonomi politik
a. politik perdagangan dunia
b. globalisasi ekonomi
c. kutub-kutub ekonomi yang berpengaruh
3. bidang sosiologi politik
a. pengkajian pressure group
b. pengkasian interest group
c. telaah budaya politik
4. bidang psikologi politik
a. teori penguasaan massa
b. teori-teori demokrasi
c. normalisasi kehidupan masyarakat
5. bidang filsafat politik
a. estetika politik
b. etika politik
c. logika politik
6. bidang pelayanan politik
a. administrasi pemerintahan daerah dan pusat
b. teori-teori organisasi
c. manajemen pemerintah
7. bidang aturan politik
a. perubahan dan pembentukan konstitusi
b. legitimasi kekuasaan
c. peraturan-peraturan daerah dan pusat
IV. KAJIAN / OBJEK ILMU POLITIK
Ilmu politik sudah diakui sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, memiliki disiplin ilmu tersendiri serta memiliki objek sebagai prasyaratnya. Objek adalah sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan, apa yang diamati, diteliti, dipelajari serta sesuatu yang dibahas dalam displin ilmu tertentu.
Objek terdiri dari dua macam yaitu objek formal dan objek materil. Objek materil suatu ilmu bisa saja sama dengan objek materil ilmu yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan objek materil lebih bersifat umum dan merupakan topik yang bisa saja dibahas secara global. Akan tetapi yang membedakan terletak bada objek formilnya, objek formil suatu ilmu dengan ilmu lain pastilah berbeda dikarenakan sudut pandang yang dikenakan berasal dari ilmu masing- masing. Kemudian, objek formil selalu ditinjau secara khusus dan spesifik. Objek materil dapat dikatakan sebagai persoalan pokok, sedangkan objek formal disebut pusat perhatian.
Objek materil yang dibahas dalam ilmu politik identik dengan objek materil yang dimiliki oleh ilmu kenegaraan lainnya, yaitu negara. Ilmu kenegaraan itu adalah ilmu politik, ilmu pemerintahan, ilmu hukum tata negara, ilmu administrasi negara, dan ilmu negara.
Ilmu politik memiliki negara sebagai objek materinya, sedangkan secara khusus ilmu politik mengkaji mengenai:
• pembuatan keputusan
• kekuasaan
adalah kemampuan sesuatu untuk mempengaruhi tingkah laku sesuatu yang lainnya agar tingkah laku tersebut terpola sedemikian rupa sesuai dengan yang diingnkan oleh pemegang penguasa. Manusia memiliki sifat alami sebagai penguasa, manusia seringkali berkehendak dan melakukan segara cara agar kemauannya tersebut dapat tercapai, salah satunya dengan cara memiliki kekuasaan terhadap hal tertentu
• kekuatan kelompok
• keresahan masyarakat
• interest group
• sistem pemerintahan termasuk pemerintah dan organisasi internasional
• perilaku politik
• kebijakan publik.
• keberhasilan pemerintahan.
• Kepentingan partai politik
• Konflik
• Perilaku kepemimpinan
• Budaya politik
• Sosialisasi politik
PENUTUP
Dari berbagai uraian di atas dapat ditarik suatu simpulan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang sudah sangat lama ada di dunia ini. Politik adalah suatu cabang ilmu sosial yang berkaitan dengan negara beserta semua aspek pendukungnya.
Untuk mempelajari masalah ilmu politik, kita membutuhkan beberapa metode sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ruang lingkup ilmu politik membuat ilmu politik tidak sama dengan ilmu sosial lainnya, hal itu membatasi materi-materi dalam ilmu politik agar tidak masuk ke dalam ilmu lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Budiarjo, Miriam. Dasar Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. GRAMEDIA PUSTAKA, 2005
Isjwara, F. Pengantar Ilmu Politik. Bandung : Penerbit Binacipta, 1974
Syafiie, Kencana Inu. Ilmu Politik . Jakarta : Rineka Cipta, 1997
http://feedfury.com/content/17146947-pendekatan_penelitian_sejarah.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Politik.html
http://pengantarilmupolitik.blogspot.com/2006_03_01_archive.html
MODEL –MODEL KOMUNIKASI
Model S-R
Model ini merupakan model yang paling sederhana dari model-model komunikasi lainnya. Hakikatnya terdapat pada proses aksi- reaksi, maksudnya apabila seseorang memberikan aksi maka orang yang merupakan sasaran komunikasi akan memberikan reaksi berupa respon tertentu, dalam hal ini aksi yang dilakukan dapat berbentuk verbal (kata-kata), isyarat, perbuatan atau hanya sekedar gambar.
Secara luas, model ini juga menjelaskan bahwa suatu reaksi yang dilakukan dapat berhubungan dengan kegiatan komunikasi yang akan terjadi setelahnya. Dapat di asumsikan bahwa perilaku komunikasi manusia dapat diramalkan. Manusia pada model ini adalah makhluk yang statis, yang melakukan segala sesutunya akibat adanya rangsangan dari luar (stimulus) bukan berdasarkan inisiatif dan kehendak masing- masing individu.
Model Aristoteles atau Model Retoris
Pada saat Yunani sangat mengagungkan kemampuan berpidato, aristoteles muncul dengan teori retorisnya. Teori ini memaparkan bahwa komunikasi terjadi apabila seseorang mulai menyampaikan pembicaraannya pada khalayak pendengar. Maka dapat dikatakan Aristoteles menganggap ada setidaknya 3 unsur terpenting dalam komunikasi yaitu pembicara (speaker), pesan atau isi pembicaraan (messages) , pendengar (listener ).
Fokus model ini adalah pada kemampuan bicara atau pidato yang biasanya berpusat pada kekmampuan persuasi seorang pembicara yang dapat dilihat dari isi pidato, susunan pidato dan cara penyampainya, dengan tercapainya tiga hal diatas maka seseorang dapat diukur kemampuan persuasinya.
Kekurangan model ini terdapat pada asumsi bahwa komunikasi adalah sutu kegiatran terstruktur yang selalu disengaja, jadi pembicara menyampaikan dan pendengar hanya mendengarkan tanpa dibahas mengenai gangguan yang mungkin terjadi dalam proses penyampaian, efek yang akan terjadi dan sebagainya. Kemudian, model ini tidak mebahas mengenai aspek nonverbal dalam persuasi yang mungkin saja terjadi dalam suatu komunikasi.
Model Shannon dan Weaver
Model yang diciptakan oleh Shannon dan Weaver adalah model yang paling mempengaruhi model komunikasi lain. Pada model ini Shannon dan Weaver menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi terjadi pengubahan pesan oleh transmetter yang berasal dari sumber informasi menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran adalah medium pengirim pesan dari transmetter ke penerima. Bila di asumsikan dalam percakapan maka sumber informasi adalah otak (transmetter), menyampaikan sinyal berupa suara yang akan di salurkan oleh udara (channel) menuju indera pendengaran (receiver) .
Selain itu yang paling penting adalah model ini mejelaskan adanya gangguan (noise) yang terjadi dalam proses komunikasi, gangguan kemdian dibagi menjadi dua bagian yaitu gangguan psikologis dan gangguan fisik. Gangguan psikologis meliputi gangguan yang berkaitan dengan pemikiran dan perasaan. Kelemahan dari model ini lagi-lagi adalah, komunikasi masih dianggap sebagi sesuatu yang statis dan satu arah.
Model Schramm
Schramm telah memaparkan tiga model. Model pertama mirip dengan model yang dikemukakan oleh Shanonnon dan Weaver. Pada model kedua beliau memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan karena bagian dari sinyal itulah yang dianut sama opleh kedua belah pihak. Kemudian model ketiga yang diperkenalkan oleh Schramm yaitu anggapan bahwa komunikasi adalah interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyandi balik, mentransmisikan, dan menerima sinyal.
Terjadi hubungan antara model kedua dan ketiga dimana suatu umpan balik dapat terjadi bila antara sumber dan sasaran terdapat kesamaan pengalaman mengenai hal yang sedang dikomunikasikan, semakin luas ruang lingkup pengetahuan yang sama maka semakin mudah pula komunikasi akan terjalin. Contoh sederhananya adalah masalah bahasa, seorang yang berbahasa afrika akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan seseorang berbahasa cina karena terjadi perbedaan pemahaman mengenai bahasa diantara keduanya yang sangat signifikan.
Model Westley dan Maclean
Westley dan Maclean merumuskan suatu model yang mengaitkan komunikasi antarpribadi, komunikasi massa, dan memasukkan umpan balik dalam proses komunikasi. Menurut kedua pakar ini umpan balik merupakan pembeda yang mendasar antara komunikasi antar pribadi dan komunikasi massa.
Dalam komunikasi antarpribadi seorang sumber dapat mengetahui umpan balik dengan segera karena efek atau pesan yang akan dismpaikan langung akan terlihat sesaat setelah pesan tersebut sampai ke sasaran. Akan tetapi berbeda dengan komunikasi massa, umpan balik dalam komunikasi model seperti ini bersifat tertunda, karena efek yang terjadi atau sampai tidaknya pesan kepada sasaran tidak dapat secara langsung diketahui, umpan balik yang terjadi mungkin berupa respon yang akan terlihat beberapa saat kemudian.
Dalam model ini terdpat lima unsur objek oreintasi, pesan, sumber, penerima, dan umpan balik. Sumber A menyampaikan suatu objek sorotan (X) kepada B dan pada saat tertentu B akan mengumpan balik suatu pesan kepada A sebagai respon dari pesan yang disampaikan. Kemudian dalam perkembangannya kedua teoretisi ini menambahkan unsur C sebagai gatekeeper atau opinion leader (pemimpin pendapat) yang menerima pesan dari A atau ikut menyoroti objek sorotan dan kemudian menyampaikan tafsirannya sendiri mengenai objek sorotan kepada B, dalam kasus ini terjadi penyaringan karena B sebagai sasaran tidak menerima informasi secara langsung dari A, melainkan dari seorang yang telah memilihkan informasi dari sumber yang mungkin saja lebih dari satu.
Model ini mencakup beberapa konsep yaitu umpan balik, perbedaan dan kemiripan komunikasi antar pribadi dengan komunikasi media serta peranan opinion leader sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa. Model ini juga menjelaskan mngenai dua bentuk pesan yaitu pesan yang bertujuan (purposif) dan pesan yang tidak bertujuan (unpurposif). Bertujuan disini maksudnya apakah pesan tersebut bertujuan mengubah citra penerima mengenai sesuatu yang disampaikan oleh sumber ataukah tidak.
Model Interaksional
Berbeda dengan model S-R yang lebih bersifat linier, model yang dikemukakan oleh George Herbert Mead lebih menganggap manusia merupakan makhluk yang lebih aktif reflektif, kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang lebih rumit, dan sulit diramalkan. Bukan hanya sekedar makhluk pasif yang melakukan sesutu berdasarkan stimulus dari luar tubuhnya.
Ada tiga premis yang menjadi dasar model ini. Pertama, manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungannya. Kedua, makna itu berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu terhadap lingkungan sosial nya. Ketiga, makna yang diciptakan oleh sutu proses yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Jadi interaksi yang dapat mengakibatkan terbentuknya struktur masyarakat , karena interaksi dianggap sebagai faktor penting dalam penentuan perilaku manusia, hal ini berkaitan dengan anggapan bahwa interaksi sosial merupakan wadah untuk mengembangkan potensi manusiawi para manusia.
Model Newcomb
Model ini memeiliki pendekatan pada psikologi sosial mengenai interaksi antar manusia. Interaksi manusia sederhana yang melibatkan dua orang yang membicarakan satu topik, maka diantara ketiga unsur tersebut akan membentuk suatu korelasi dan menbentuk empat orientasi (sikap) yaitu:
1. orientasi A terhadap X
2. orientasi A terhadap B
3. orientasi B terhadap X
4. orientasi B terhadap A
orientasi yang terjadi bisa berupa ketertarikan positif atau negatif dan tentang sikap senang atau tidak senang. Newcomb menambahkan bahwa semua sistem memiliki keseimbangan daya dan setiap adanya perubahan orientasi terhadap suatu bagian akan menimbulkan ketidakseimbangan dalm suatu sistem.
Bisa digambarkan bila A dan B memiliki ketertarikan satu sama lain, dan begitu pula yang terjadi terhadap X maka sistem tersebut akan seimbang (simetri). Sebaliknya, bila A dan B saling menyukai namun mereka membenci X atau mereka saling membenci tapi memiliki pendapat yang sama mengenai X maka hal ini disebut asimetri. Berikut adalah gambaran sederhana mengenai model ini :
Model Simetri Model Asimetri
Model Tubbs
Model ini menggambarkan komunikasi yang paling mendasar, yaitu komunikasi antar dua orang. Komunikasi pada model ini diasumsikan sebagai transaksi antara kedua pelaku komunikasi sebagai sumber merangkup sebagai sasaran dari sebuah pesan, kedua proses ini bersifat timbal balik. Tanpa kita sadari bila kita melakukan sebuah aktifitas komunikasi maka sebenarnya dalam proses mengamati lawan bicara dan memberikan respon tertentu terhadap apa yang dilakukan oleh lawan bicara.
Tubbs menerangkan bahwa komunikasi merupakan transaksi yang berkesinambungan, komunikasi bisa saja dimulai dari satu orang yang bisa sementara di sebut sebagai sumber akan tetapi pada kenyataannya diantara kedua pelaku komunikasi akan terjadi pengiriman dan penerimaan pesan secara terus menerus.
Bisa disimpulkan bahwa komunikasi yang terjadi di kehidupan nyaris tidak memiliki struktur utuh karena setiap komunikasi yang terjadi merupakan sambungan dari komunikasi yang terjadi sebelumnya, dan sesutu yang dianggap akhir dari komunikasi merupakan awal dari terjalinnya komunikasi selanjutnya.
Selain itu Tubss juga menambahkan adanya dua macam gangguan yang bisa saja terjadi dalam proses komunikasi baik verbal maupun nonverbal, yang pertama adalah gangguan teknis dan yang kedua adalah gangguan sematik. Gangguan teknis dalam proses ini berupa gangguan yang menyebabkan sumber merasakan ada suatu perubahan dalam informasi atau rangsangan yang tiba, misalnya kesulitan mengucapkan atau kesalahan dalam mengucapkan suatu kata. Sedangkan gangguan sematik adalah kekeliruan dalam memaknai pesan yang diberikan, bisa dikatakan gangguan sematik berupa “salah persepsi”.
DAFTAR PUSTAKA
• Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar . Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2005
• Severin J, Werner and Tankard, James W Jr. Teori komunikasi : Sejarah , Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa . Jakarta : Kencana , 2007
Model ini merupakan model yang paling sederhana dari model-model komunikasi lainnya. Hakikatnya terdapat pada proses aksi- reaksi, maksudnya apabila seseorang memberikan aksi maka orang yang merupakan sasaran komunikasi akan memberikan reaksi berupa respon tertentu, dalam hal ini aksi yang dilakukan dapat berbentuk verbal (kata-kata), isyarat, perbuatan atau hanya sekedar gambar.
Secara luas, model ini juga menjelaskan bahwa suatu reaksi yang dilakukan dapat berhubungan dengan kegiatan komunikasi yang akan terjadi setelahnya. Dapat di asumsikan bahwa perilaku komunikasi manusia dapat diramalkan. Manusia pada model ini adalah makhluk yang statis, yang melakukan segala sesutunya akibat adanya rangsangan dari luar (stimulus) bukan berdasarkan inisiatif dan kehendak masing- masing individu.
Model Aristoteles atau Model Retoris
Pada saat Yunani sangat mengagungkan kemampuan berpidato, aristoteles muncul dengan teori retorisnya. Teori ini memaparkan bahwa komunikasi terjadi apabila seseorang mulai menyampaikan pembicaraannya pada khalayak pendengar. Maka dapat dikatakan Aristoteles menganggap ada setidaknya 3 unsur terpenting dalam komunikasi yaitu pembicara (speaker), pesan atau isi pembicaraan (messages) , pendengar (listener ).
Fokus model ini adalah pada kemampuan bicara atau pidato yang biasanya berpusat pada kekmampuan persuasi seorang pembicara yang dapat dilihat dari isi pidato, susunan pidato dan cara penyampainya, dengan tercapainya tiga hal diatas maka seseorang dapat diukur kemampuan persuasinya.
Kekurangan model ini terdapat pada asumsi bahwa komunikasi adalah sutu kegiatran terstruktur yang selalu disengaja, jadi pembicara menyampaikan dan pendengar hanya mendengarkan tanpa dibahas mengenai gangguan yang mungkin terjadi dalam proses penyampaian, efek yang akan terjadi dan sebagainya. Kemudian, model ini tidak mebahas mengenai aspek nonverbal dalam persuasi yang mungkin saja terjadi dalam suatu komunikasi.
Model Shannon dan Weaver
Model yang diciptakan oleh Shannon dan Weaver adalah model yang paling mempengaruhi model komunikasi lain. Pada model ini Shannon dan Weaver menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi terjadi pengubahan pesan oleh transmetter yang berasal dari sumber informasi menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran adalah medium pengirim pesan dari transmetter ke penerima. Bila di asumsikan dalam percakapan maka sumber informasi adalah otak (transmetter), menyampaikan sinyal berupa suara yang akan di salurkan oleh udara (channel) menuju indera pendengaran (receiver) .
Selain itu yang paling penting adalah model ini mejelaskan adanya gangguan (noise) yang terjadi dalam proses komunikasi, gangguan kemdian dibagi menjadi dua bagian yaitu gangguan psikologis dan gangguan fisik. Gangguan psikologis meliputi gangguan yang berkaitan dengan pemikiran dan perasaan. Kelemahan dari model ini lagi-lagi adalah, komunikasi masih dianggap sebagi sesuatu yang statis dan satu arah.
Model Schramm
Schramm telah memaparkan tiga model. Model pertama mirip dengan model yang dikemukakan oleh Shanonnon dan Weaver. Pada model kedua beliau memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan karena bagian dari sinyal itulah yang dianut sama opleh kedua belah pihak. Kemudian model ketiga yang diperkenalkan oleh Schramm yaitu anggapan bahwa komunikasi adalah interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyandi balik, mentransmisikan, dan menerima sinyal.
Terjadi hubungan antara model kedua dan ketiga dimana suatu umpan balik dapat terjadi bila antara sumber dan sasaran terdapat kesamaan pengalaman mengenai hal yang sedang dikomunikasikan, semakin luas ruang lingkup pengetahuan yang sama maka semakin mudah pula komunikasi akan terjalin. Contoh sederhananya adalah masalah bahasa, seorang yang berbahasa afrika akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan seseorang berbahasa cina karena terjadi perbedaan pemahaman mengenai bahasa diantara keduanya yang sangat signifikan.
Model Westley dan Maclean
Westley dan Maclean merumuskan suatu model yang mengaitkan komunikasi antarpribadi, komunikasi massa, dan memasukkan umpan balik dalam proses komunikasi. Menurut kedua pakar ini umpan balik merupakan pembeda yang mendasar antara komunikasi antar pribadi dan komunikasi massa.
Dalam komunikasi antarpribadi seorang sumber dapat mengetahui umpan balik dengan segera karena efek atau pesan yang akan dismpaikan langung akan terlihat sesaat setelah pesan tersebut sampai ke sasaran. Akan tetapi berbeda dengan komunikasi massa, umpan balik dalam komunikasi model seperti ini bersifat tertunda, karena efek yang terjadi atau sampai tidaknya pesan kepada sasaran tidak dapat secara langsung diketahui, umpan balik yang terjadi mungkin berupa respon yang akan terlihat beberapa saat kemudian.
Dalam model ini terdpat lima unsur objek oreintasi, pesan, sumber, penerima, dan umpan balik. Sumber A menyampaikan suatu objek sorotan (X) kepada B dan pada saat tertentu B akan mengumpan balik suatu pesan kepada A sebagai respon dari pesan yang disampaikan. Kemudian dalam perkembangannya kedua teoretisi ini menambahkan unsur C sebagai gatekeeper atau opinion leader (pemimpin pendapat) yang menerima pesan dari A atau ikut menyoroti objek sorotan dan kemudian menyampaikan tafsirannya sendiri mengenai objek sorotan kepada B, dalam kasus ini terjadi penyaringan karena B sebagai sasaran tidak menerima informasi secara langsung dari A, melainkan dari seorang yang telah memilihkan informasi dari sumber yang mungkin saja lebih dari satu.
Model ini mencakup beberapa konsep yaitu umpan balik, perbedaan dan kemiripan komunikasi antar pribadi dengan komunikasi media serta peranan opinion leader sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa. Model ini juga menjelaskan mngenai dua bentuk pesan yaitu pesan yang bertujuan (purposif) dan pesan yang tidak bertujuan (unpurposif). Bertujuan disini maksudnya apakah pesan tersebut bertujuan mengubah citra penerima mengenai sesuatu yang disampaikan oleh sumber ataukah tidak.
Model Interaksional
Berbeda dengan model S-R yang lebih bersifat linier, model yang dikemukakan oleh George Herbert Mead lebih menganggap manusia merupakan makhluk yang lebih aktif reflektif, kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang lebih rumit, dan sulit diramalkan. Bukan hanya sekedar makhluk pasif yang melakukan sesutu berdasarkan stimulus dari luar tubuhnya.
Ada tiga premis yang menjadi dasar model ini. Pertama, manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungannya. Kedua, makna itu berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu terhadap lingkungan sosial nya. Ketiga, makna yang diciptakan oleh sutu proses yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Jadi interaksi yang dapat mengakibatkan terbentuknya struktur masyarakat , karena interaksi dianggap sebagai faktor penting dalam penentuan perilaku manusia, hal ini berkaitan dengan anggapan bahwa interaksi sosial merupakan wadah untuk mengembangkan potensi manusiawi para manusia.
Model Newcomb
Model ini memeiliki pendekatan pada psikologi sosial mengenai interaksi antar manusia. Interaksi manusia sederhana yang melibatkan dua orang yang membicarakan satu topik, maka diantara ketiga unsur tersebut akan membentuk suatu korelasi dan menbentuk empat orientasi (sikap) yaitu:
1. orientasi A terhadap X
2. orientasi A terhadap B
3. orientasi B terhadap X
4. orientasi B terhadap A
orientasi yang terjadi bisa berupa ketertarikan positif atau negatif dan tentang sikap senang atau tidak senang. Newcomb menambahkan bahwa semua sistem memiliki keseimbangan daya dan setiap adanya perubahan orientasi terhadap suatu bagian akan menimbulkan ketidakseimbangan dalm suatu sistem.
Bisa digambarkan bila A dan B memiliki ketertarikan satu sama lain, dan begitu pula yang terjadi terhadap X maka sistem tersebut akan seimbang (simetri). Sebaliknya, bila A dan B saling menyukai namun mereka membenci X atau mereka saling membenci tapi memiliki pendapat yang sama mengenai X maka hal ini disebut asimetri. Berikut adalah gambaran sederhana mengenai model ini :
Model Simetri Model Asimetri
Model Tubbs
Model ini menggambarkan komunikasi yang paling mendasar, yaitu komunikasi antar dua orang. Komunikasi pada model ini diasumsikan sebagai transaksi antara kedua pelaku komunikasi sebagai sumber merangkup sebagai sasaran dari sebuah pesan, kedua proses ini bersifat timbal balik. Tanpa kita sadari bila kita melakukan sebuah aktifitas komunikasi maka sebenarnya dalam proses mengamati lawan bicara dan memberikan respon tertentu terhadap apa yang dilakukan oleh lawan bicara.
Tubbs menerangkan bahwa komunikasi merupakan transaksi yang berkesinambungan, komunikasi bisa saja dimulai dari satu orang yang bisa sementara di sebut sebagai sumber akan tetapi pada kenyataannya diantara kedua pelaku komunikasi akan terjadi pengiriman dan penerimaan pesan secara terus menerus.
Bisa disimpulkan bahwa komunikasi yang terjadi di kehidupan nyaris tidak memiliki struktur utuh karena setiap komunikasi yang terjadi merupakan sambungan dari komunikasi yang terjadi sebelumnya, dan sesutu yang dianggap akhir dari komunikasi merupakan awal dari terjalinnya komunikasi selanjutnya.
Selain itu Tubss juga menambahkan adanya dua macam gangguan yang bisa saja terjadi dalam proses komunikasi baik verbal maupun nonverbal, yang pertama adalah gangguan teknis dan yang kedua adalah gangguan sematik. Gangguan teknis dalam proses ini berupa gangguan yang menyebabkan sumber merasakan ada suatu perubahan dalam informasi atau rangsangan yang tiba, misalnya kesulitan mengucapkan atau kesalahan dalam mengucapkan suatu kata. Sedangkan gangguan sematik adalah kekeliruan dalam memaknai pesan yang diberikan, bisa dikatakan gangguan sematik berupa “salah persepsi”.
DAFTAR PUSTAKA
• Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar . Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2005
• Severin J, Werner and Tankard, James W Jr. Teori komunikasi : Sejarah , Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa . Jakarta : Kencana , 2007
PERJALANAN FILSAFAT DI ABAD PERTENGAHAN
Filasafat Yunani yang menelurkan banyak pemikir ulung, memiliki tempat yang cukup berpengaruh pada perkembangan ilmu filsafat di abad pertengahan. Pada masa itu, perkembangan kehidupan di dunia tidak bisa lepas dari dua agama besar yang saat itu saling mempengaruhi, Islam dan Nasrani. Masyarakat tersebut memiliki kontribusi besar dalam perkembangan dunia selanjutnya.
Keistimewaan yang ditawarkan oleh para filsuf Yunani adalah bagaimana keberagaman sudut pandang yang memperkaya ilmu filsafat itu sendiri. Dari membaca bagian ini, kita kemudian memiliki pertanyaan-pertanyaan tertentu, misalnya mengenai mengapa sejarah islam di abad pertengahan tidak terlalu banyak mengangkat nama Heraklitos dan Demokritos, kemudian apakah menurut masyarakat pada masa itu Plato tampaknya lebih “hebat” dari pada kedua tokoh tersebut. pertanyaan- pertanyaan seperti ini merupakan hasil dari suksesnya stimulus yang diberikan oleh Tan Malaka.
Beralih pada paragraf selanjutnya, sebagai masyarakat islam, sudah sepatutnya saya bangga, bahwa nenek moyang saya pada abad pertengahan merupakan orang-orang tangguh yang memiliki pemikiran yang sangat maju tentang memaknai kehidupan. Tan Malaka menjelaskan bahwa, di Arab pada masa itu terdapat sekelompok orang-orang yang menjalani kehidupan secara ilegal tetapi memiliki hasil pemikiran yang ditakuti bahkan oleh bangsa Eropa. Keterangan itu dapat menajdi pacuan bagi masyarakat islam sekarang, tanpa berniat menonjolkan suatu agamapun, saya masih takjub dengan keistimewaan bangsa islam, lihat saja Ibnu sina, Ibnu Rsyd, Al-jabar, dll. Banyak hal di dunia yang dipengaruhi hasil pemikiran mereka, bukan hanya ilmu pengetahuan empirik bahkan filsafatnya. Tetapi kenyataannya sekarang, entah mengapa identitas islam yang semula dikenal sebagai golongan jenius berubah menjadi golongan yang identik dengan sekarang ini.
Dari golongan Nasrani, pada masa ini kekuasaan agama masih begitu berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan filasafat, khususnya di kawasan Eropa. Adanya tren perbudakan membuat para pemikir ahli terbatas hanya dari kaum agamis yang berada di gereja saja, karena mereka yang diluar gereja terlalu disibukkan dengan urusan melayani orang lain, daripada memikirkan hal-hal yang tidak mengenyangkan seperti filsafat. Sedikit menambahkan dari pembahasan Tan Malaka mengenai bagian Agama, Filsafat dan Pengetahuan empirik, pada bagian tersebut Tan Malaka telah memberikan sedikit kata kunci bahwa dalam perkembangan filsafat agama dan pengetahuan empirik merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari prosesnya, karena ketiga saling mempengaruhi. Peranan masing-masing aspek menjadi ciri khas suatu zaman, yang saling berkaitan, seperti yang dikemukakan pada bagian akhir dari bahan bacaan yang membingungkan ini.
Keistimewaan yang ditawarkan oleh para filsuf Yunani adalah bagaimana keberagaman sudut pandang yang memperkaya ilmu filsafat itu sendiri. Dari membaca bagian ini, kita kemudian memiliki pertanyaan-pertanyaan tertentu, misalnya mengenai mengapa sejarah islam di abad pertengahan tidak terlalu banyak mengangkat nama Heraklitos dan Demokritos, kemudian apakah menurut masyarakat pada masa itu Plato tampaknya lebih “hebat” dari pada kedua tokoh tersebut. pertanyaan- pertanyaan seperti ini merupakan hasil dari suksesnya stimulus yang diberikan oleh Tan Malaka.
Beralih pada paragraf selanjutnya, sebagai masyarakat islam, sudah sepatutnya saya bangga, bahwa nenek moyang saya pada abad pertengahan merupakan orang-orang tangguh yang memiliki pemikiran yang sangat maju tentang memaknai kehidupan. Tan Malaka menjelaskan bahwa, di Arab pada masa itu terdapat sekelompok orang-orang yang menjalani kehidupan secara ilegal tetapi memiliki hasil pemikiran yang ditakuti bahkan oleh bangsa Eropa. Keterangan itu dapat menajdi pacuan bagi masyarakat islam sekarang, tanpa berniat menonjolkan suatu agamapun, saya masih takjub dengan keistimewaan bangsa islam, lihat saja Ibnu sina, Ibnu Rsyd, Al-jabar, dll. Banyak hal di dunia yang dipengaruhi hasil pemikiran mereka, bukan hanya ilmu pengetahuan empirik bahkan filsafatnya. Tetapi kenyataannya sekarang, entah mengapa identitas islam yang semula dikenal sebagai golongan jenius berubah menjadi golongan yang identik dengan sekarang ini.
Dari golongan Nasrani, pada masa ini kekuasaan agama masih begitu berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan filasafat, khususnya di kawasan Eropa. Adanya tren perbudakan membuat para pemikir ahli terbatas hanya dari kaum agamis yang berada di gereja saja, karena mereka yang diluar gereja terlalu disibukkan dengan urusan melayani orang lain, daripada memikirkan hal-hal yang tidak mengenyangkan seperti filsafat. Sedikit menambahkan dari pembahasan Tan Malaka mengenai bagian Agama, Filsafat dan Pengetahuan empirik, pada bagian tersebut Tan Malaka telah memberikan sedikit kata kunci bahwa dalam perkembangan filsafat agama dan pengetahuan empirik merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari prosesnya, karena ketiga saling mempengaruhi. Peranan masing-masing aspek menjadi ciri khas suatu zaman, yang saling berkaitan, seperti yang dikemukakan pada bagian akhir dari bahan bacaan yang membingungkan ini.
tinjauan epistimologi dari pelacuran
Sarah Paradiska/22574
Pelacuran merupakan fenomena manusiawi yang telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Semakin lama industri yang menyuguhkan kenikmatan batin ini semakin mengalami perkembangan. Hal ini tidak bisa lepas dari hasrat manusiawi yang dimiliki hampir semua manusia. Perkembangan zaman memaksa manusia lebih kreatif dalam melakukan segala hal. Pelacuran merupakan ladang bisnis yang menjanjikan bagi sebagian kelompok masyarakat. Persaingan antara pelaku industri seks terjadi secara cepat seraya perkembangan waktu. Tingkat kekreatifitasan seseorang dalam menyuguhkan “petualangan” lain dari seks merupakan salah satu daya tarik yang dapat menjadi persaingan antara pelaku industri seks. Secara tidak langsung, hal ini memaksa lebih banyak lagi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam industri semacam ini. Pelacuran dijadikan suatu komoditi wajib di setiap wilayah. Kembali lagi, pelacuran merupakan ladang uang yang cukup menjanjikan. Tempat pelacuran atau lokalisasi dapat meraup keuntungan besar setiap malam yang pasti akan mengalir ke kantong pemerintah. Hal ini membuat industri seperti ini kian menjamur di berbagai tempat. Dari sisi keagamaan, budaya serta kesehatan, sangat jelas sekali pelacuran merupakan hal yang dikecam keberadaannya. Akan tetapi, dari segi ekonomi dan bisnis bukan tidak mungkin praktek seperti ini menyelamatkan puluhan ribu masyarakat dari lingkar pengangguran.
Industri seks dapat berkembang di berbagai wilayah di dunia dikarenakan adanya banyak faktor yang mendukung hal tersebut. Prostitusi atau pelacuran terkadang menjadi kelebihan dari industri pariwisata di berbagai daerah. Bisnis ini tidak mengenal batasan usia baik produsen maupun konsumen. Pelakunya pun tidak memerlukan suatu keahlian khusus untuk menjalankannya. Perluasan industri seks di dunia salah satunya disebabkan oleh globalisasi yang sedang gencar-gencarnya terjadi . Globalisasi yang terjadi diperlihatkan dengan semakin banyaknya persaingan yang terjadi antar negara. Perkembangan tersebut dapat berupa jasa-jasa maupun produk prostitusi. Pada saat ini negara Hungaria sekarang menjadi negara yang memproduksi pornografi terbesar, dan negara Cina menjadi negara yang memproduksi alat-alat seks terbesar (James, 2003:20). Kemudian, globalisasi juga mempengaruhi perluasan jaringan prostitusi di dunia. Saat ini para pelacur yang berada di suatu negara bukan hanya berasal dari negara tersebut. Akan tetapi terdapat kemungkinan para pelacur tersebut berasal dari negara lain. Hal ini tidak mungkin lepas dari peranan pemerintah setempat dalam rangka perizinan untuk menempatkan para pelacur. Selain itu, kepentingan beberapa kelompok dalam sektor ekonomi juga mempengaruhi perluasannya. Seorang antropolog bernama Alison J. Murray pernah mengadakan suatu kajian yang membuktikan bahwa pelacuran merupakan suatu tindakan rasional yang menghasilkan pemasukan ekonomi yang tinggi dibandingkan dengan pekerja perempuan kelas bawah lainnya . Terlepas dari kontroversi tidak berkesudahan yang dihadirkan, pelacuran sudah menjadi suatu industri yang keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan karena terlalu banyak faktor yang bergantung pada industri tersebut. Sehingga apabila suatu saat rantai pelacuran terputus maka sangat banyak sekali sektor yang akan mengalami kerugian lebih besar.
Pelacuran merupakan fenomena manusiawi yang telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Semakin lama industri yang menyuguhkan kenikmatan batin ini semakin mengalami perkembangan. Hal ini tidak bisa lepas dari hasrat manusiawi yang dimiliki hampir semua manusia. Perkembangan zaman memaksa manusia lebih kreatif dalam melakukan segala hal. Pelacuran merupakan ladang bisnis yang menjanjikan bagi sebagian kelompok masyarakat. Persaingan antara pelaku industri seks terjadi secara cepat seraya perkembangan waktu. Tingkat kekreatifitasan seseorang dalam menyuguhkan “petualangan” lain dari seks merupakan salah satu daya tarik yang dapat menjadi persaingan antara pelaku industri seks. Secara tidak langsung, hal ini memaksa lebih banyak lagi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam industri semacam ini. Pelacuran dijadikan suatu komoditi wajib di setiap wilayah. Kembali lagi, pelacuran merupakan ladang uang yang cukup menjanjikan. Tempat pelacuran atau lokalisasi dapat meraup keuntungan besar setiap malam yang pasti akan mengalir ke kantong pemerintah. Hal ini membuat industri seperti ini kian menjamur di berbagai tempat. Dari sisi keagamaan, budaya serta kesehatan, sangat jelas sekali pelacuran merupakan hal yang dikecam keberadaannya. Akan tetapi, dari segi ekonomi dan bisnis bukan tidak mungkin praktek seperti ini menyelamatkan puluhan ribu masyarakat dari lingkar pengangguran.
Industri seks dapat berkembang di berbagai wilayah di dunia dikarenakan adanya banyak faktor yang mendukung hal tersebut. Prostitusi atau pelacuran terkadang menjadi kelebihan dari industri pariwisata di berbagai daerah. Bisnis ini tidak mengenal batasan usia baik produsen maupun konsumen. Pelakunya pun tidak memerlukan suatu keahlian khusus untuk menjalankannya. Perluasan industri seks di dunia salah satunya disebabkan oleh globalisasi yang sedang gencar-gencarnya terjadi . Globalisasi yang terjadi diperlihatkan dengan semakin banyaknya persaingan yang terjadi antar negara. Perkembangan tersebut dapat berupa jasa-jasa maupun produk prostitusi. Pada saat ini negara Hungaria sekarang menjadi negara yang memproduksi pornografi terbesar, dan negara Cina menjadi negara yang memproduksi alat-alat seks terbesar (James, 2003:20). Kemudian, globalisasi juga mempengaruhi perluasan jaringan prostitusi di dunia. Saat ini para pelacur yang berada di suatu negara bukan hanya berasal dari negara tersebut. Akan tetapi terdapat kemungkinan para pelacur tersebut berasal dari negara lain. Hal ini tidak mungkin lepas dari peranan pemerintah setempat dalam rangka perizinan untuk menempatkan para pelacur. Selain itu, kepentingan beberapa kelompok dalam sektor ekonomi juga mempengaruhi perluasannya. Seorang antropolog bernama Alison J. Murray pernah mengadakan suatu kajian yang membuktikan bahwa pelacuran merupakan suatu tindakan rasional yang menghasilkan pemasukan ekonomi yang tinggi dibandingkan dengan pekerja perempuan kelas bawah lainnya . Terlepas dari kontroversi tidak berkesudahan yang dihadirkan, pelacuran sudah menjadi suatu industri yang keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan karena terlalu banyak faktor yang bergantung pada industri tersebut. Sehingga apabila suatu saat rantai pelacuran terputus maka sangat banyak sekali sektor yang akan mengalami kerugian lebih besar.
Langgan:
Entri (Atom)
